Rabu, 09 Juli 2014

Teknik Penulisan Skenario Film

Teknik Penulisan Skenario Film

PENGERTIAN SKENARIO

Pengertian mengenai Screenplay atau Skenario menurut Syd Field dalam bukunya The Foundations of Screenwriting adalah :

”A screenplay is a story told with pictures, in dialogue and description, and placed within the context of dramatic structure. A screenplay is a noun – it is about a person, or persons, in a place or places, doing his or her or their thing. All screenplays execute this basic premise. The person is the character, and and doing his or her thing is the action. (1994:8).

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa skenario itu adalah sebuah naskah cerita yang menguraikan urut-urutan adegan, tempat, keadaan, dan dialog, yang disusun dalam konteks struktur dramatik. Seorang penulis skenario dituntut untuk mampu menerjemahkan setiap kalimat dalam naskahnya menjadi sebuah gambaran imajinasi visual yang dibatasi oleh format pandang layar bioskop atau televisi. Adapun fungsi dari skenario adalah untuk digunakan sebagai petunjuk kerja dalam pembuatan film.

TEKNIK PENULISAN SKENARIO :

    Inti Cerita

Tahap awal dalam penulisan skenario adalah menetukan inti cerita yang akan dikembangkan menjadi sebuah skenario. Dalam inti cerita ini kita sudah mempunyai gambaran singkat tentang plot, karakter utama, maupun setting dari cerita. Inti cerita ini bisa berasal dari ide/inspirasi yang kita temukan baik dalam imajinasi atau fenomena keseharian kita. Banyak juga penulis skenario yang mengadaptasi novel, cerpen, atau puisi untuk dikembangkan menjadi skenario.

Inti cerita dari film Romeo and Juliet, misalnya, adalah percintaan antara dua orang anak manusia yang berasal dari latar belakang keluarga yang berlawanan yang pada akhirnya melahirkan tragedi.

    Sinopsis

Sinopsis adalah ringkasan cerita yang akan dikembangkan menjadi skenario. Pada umumnya Sinopsis ditulis semenarik mungkin dengan maksud menggoda pembacanya untuk membaca skenario dari sinopsis tersebut. Panjang sinopsis biasanya dari setengah sampai dua halaman. Sebagai contoh, kita dapat membaca sinopsis dari film-televisi Gadis Misterius berikut ini :

“Kisah roman-tragedi tentang seorang pelukis muda yang terobsesi pada gadis cantik yang pernah dilihatnya di tepi jurang. Obsesinya itu menjadi kenyataan ketika dia berkenalan dengan Lilis, resepsionis di sebuah kafĂ© yang mempunyai wajah sangat mirip dengan wanita impiannya itu. Cerita kemudian berkembang setelah wanita yang dicintainya itu pun tiba-tiba menghilang dan dia dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal. Lilis yang telah dipacarinya itu, ternyata telah meninggal jauh sebelum mereka pertama kali berkenalan. Kenyataan-kenyataan yang aneh tersebut justru mendorongnya untuk melakukan penyelidikan sampai kemudian dia
 menemukan jawaban yang sesungguhnya.”

    Karakter

Karakter atau tokoh adalah merupakan salah satu unsur terpenting dalam skenario sama halnya dalam cerpen maupun novel. Akan tetapi dalam skenario, karakter harus lebih dikembangkan secara lebih rinci. Hal ini juga berhubungan dengan kebutuhan aktor atau aktris yang akan memerankan karakter tersebut. Perincian karakter dalam skenario biasanya meliputi nama peran, jenis kelamin, usia, ciri-ciri fisik, sifat/prilakunya, pendidikan, kebiasaan, hubungan dengan karakter yang lain, dan sebagainya. Contoh perincian karakter adalah sebagai berikut :

Lilis, wanita berusia 25 tahun. Matanya teduh, murah senyum, rambutnya yang ikal panjang sampai ke punggung, dan tubuhnya ramping. Seorang wanita cantik yang selalu tampil sederhana, pekerja keras, dan baik hati. Dia juga tegar dalam menghadapi cobaan hidupnya. Meski dia selalu menghindar, namun diam-diam dia pun jatuh hati kepada Alam.

    Plot

Penyusunan plot yang merupakan alur cerita sangat diperlukan dalam menulis skenario sebagaimana dalam penulisan novel maupun cerpen. Struktur plot lazimnya terdiri dari 3 (tiga) babak yaitu set up atau awal konflik, confrontation atau komplikasi masalah, dan resolution atau penyelesaian masalah. Dengan adanya plot yang disusun terlebih dahulu akan sangat membantu penulis dalam penulisan skenario. Bentuk plot secara sederhana adalah sebagai berikut :

Babak I : Alam berkenalan dengan Lilis di sebuah kafe tempat Lilis bekerja, kemudian timbul rasa saling suka diantara mereka. Konflik mulai timbul ketika secara tidak sengaja Lilis bertemu dengan Pak Willy, Lilis kabur dan menghilang entah kemana. Alam terus mencarinya dan bingung karena dipaksa untuk menerima kenyataan-kenyataan yang sangat tidak masuk di akal. Lilis yang telah dipacarinya itu, ternyata telah meninggal jauh sebelum mereka pertama kali berkenalan.

Babak II : Kenyataan-kenyataan yang aneh tersebut justru mendorongnya untuk melakukan penyelidikan sampai akhirnya dia menemukan jawaban yang sesungguhnya, Lilis dan Pak Willy pernah menikah dan mempunyai seorang anak, namun Pak Willy tidak mau bertanggung jawab. Alam kemudian berhasil menemukan Lilis dan menyatakan keinginannya untuk menikahi Lilis, namun Lilis menampik. Alam pasrah. Pak Willy kemudian berambisi untuk memiliki Lilis dan anaknya kembali. Dia berusaha membujuk Lilis.

Babak III : Lilis akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Alam, happy ending.



    Outline

Outline adalah susunan urutan adegan per adegan secara lebih rinci. Jadi bisa dikatakan bahwa outline adalah penjabaran dari plot. Contoh outline adalah sebagai berikut :

1. Di Kawasan Puncak :

1.1. Alam melukis pemandangan perkebunan teh yang ada di hadapannya,

1.2. Alam menghentikan kegiatan melukisnya begitu melihat seorang gadis berdiri di tepi jurang sambil memandang ke dasar jurang dan bersiap-siap melompat,

1.3.Alam yang melihat kejadian tersebut menjadi panik dan berteriak agar gadis itu tidak melompat,

1.4.Gadis itu tidak menanggapinya, dia tetap memandangi dasar jurang dengan tatapan kosong,

1.5.Alam berlari ke arah tepi jurang tempat gadis itu berada,

1.6.Alam tiba di tepi jurang dengan terengah-engah, namun dia tidak menemukan gadis itu lagi, dan seterusnya.

    Scene

Scene atau scene heading merupakan informasi tentang adegan. scene heading umumnya terdiri dari nomor scene, INT/EXT, lokasi adegan, dan waktu adegan. INT atau singkatan dari interior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan, sedangkan EXT atau singkatan dari exterior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di luar ruangan. Adapun bentuk scene heading adalah sebagai berikut :

1. EXT. KAWASAN PUNCAK - PAGI


  Action

Action atau aksi adalah keterangan mengenai kejadian dalam setiap scene atau adegan yang merupakan penjabaran dari Outline yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk Scene 1 dapat ditulis sebagai berikut :

1. EXT. KAWASAN PUNCAK - PAGI
Alam melukis pemandangan perkebunan teh yang ada di hadapannya.


    Dialog dan Parenthetical

Dialog adalah kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh karakter dalam adegan. Sedangkan parenthetical adalah pentunjuk aksi atau ekspresi yang harus dilakukan oleh karakter dalam mengucapkan dialog. Misalnya emosi, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, dan sebagainya. Adapun dialog yang mengiringi perjalanan scene yang menunjukkan suara hati atau pikiran dari karakter tanpa melafalkan dialog digunakan istilah Voice Over (V.O), sedangkan dialog tanpa menampilkan karakter dalam adegan digunakan istilah Off Screen (O.S). Contoh dialog dan parenthetical adalah sebagai berikut :

8. INT. VILA PUNCAK - PAGI

Alam menghampiri dan melihat sebuah lukisan wanita yang terpampang di dinding ruang tamu. Dipandanginya lukisan itu lama-lama. Bersamaan dengan adegan tersebut, terdengar suara Alam.
ALAM

(V.O)

Aku tidak tahu pasti, apakah yang dia kagumi lukisanku atau wanita yang ada di dalam lukisan ini? Aku merasa tidak perlu tahu. Kalaupun dia mengagumi wanita yang ada di dalam lukisan ini adalah hal yang wajar karena akupun sangat mengaguminya, bahkan aku pernah melihatnya walau hanya sekejap.


ISTILAH-ISTILAH TEKNIS PENULISAN SKENARIO

Dalam penulisan skenario terdapat banyak istilah-istilah teknis selain yang telah disebutkan sebelumnya, berikut ini adalah istilah-istilah teknis lainnya yang umum digunakan, antara lain adalah :

CAMERA FOLLOW, petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengikuti pergerakan obyek

CAMERA PAN TO, petunjuk pengambilan gambar dengan cara mengalihkan kamera kepada obyek yang dituju dari obyek sebelumnya

CLOSE UP, petunjuk pengambilan gambar secara close-up

CUT TO, mengakhiri adegan secara langsung tanpa proses transisi

CUT TO FLASH BACK, petunjuk mengalihkan gambar ke adegan flash back

FADE IN, petunjuk transisi memasuki adegan secara perlahan

FADE OUT, petunjuk transisi mengakhiri adegan secara perlahan dari layar

FLASH BACK CUT TO, petunjuk untuk mengakhiri adegan flash back

INSERT, sama dengan CAMERA PAN TO

INTERCUT, petunjuk potongan adegan dalam satu adegan/scene

ZOOM IN, petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari jauh sampai dekat atau close-up

ZOOM OUT, petunjuk gerakan kamera dengan menyorot obyek dari dekat sampai jauh.


sumber : http://adnanscript.blogspot.com

Istilah HD (High Definition) dalam perfilman

Istilah HD (High Definition) dalam perfilman

Tentang Teknologi High Definition


Pernahkah kita berpikir, kenapa film yang diputar di bioskop tampak sangat bagus dan berbeda. Nah, itulah yang dinamakan dengan dunia High Definition. Ketika High Definition telah menjadi sebuah realitas yang booming dikalangan masyarakat, banyak dari ahli teknis dengan penemuan teknologi yang selalu baru membuat masyarakat menjadi bingung. hal ini pun terjadi ketika kita mulai membedakan Blu-ray dan HD DVD. Sebenarnya, High Definition merupakan suatu perkembangan resolusi yang digunakan menjadi lebih bagus atau lebih baik dari sekarang.

High Definition sendiri sebenarnya telah digunakan sebagai contoh yang terdapat di HD TV atau High Definition Television dan juga HD DVD. Oleh karena itu, untuk lebih mengenal High Definition, kita harus mengenal 3 faktor penting, yaitu tentang resolusi, aspek rasio, dan frame rate (tingkat frame).

Resolusi merupakan kumpulan dari beberapa pixel yang menjadi satu, sedangkan pixel itu sendiri merupakan bagian terkecil yang berbentuk persegi dan mempunyai tiga warna, yaitu merah, hijau, dan biru, atau RGB (Red Green Blue). Sebagai contoh, apabila kita mempunyai sebuah foto dengan format JPEG atau JPG, kemudian kita lakuakan zoom (perbesar) secara terus menerus, maka hasil yang didapat adalah gambar dalam foto itu akan menjadi pecah-pecah berbentuk seperti kotak-kotak, seperti itulah pixel yang dimaksud. Semakin banyak jumlah pixel yang digunakan, maka semakin jernih kualitas gambar yang dihasilkan.

Resolusi yang digunakan untuk menentukan High Definition ada tiga format, yaitu:

720p. Merupakan format resolusi yang mempunyai ukuran asli 1280 x 720 pixels. Gambar yang ditampilkan dalam resolusi ini biasanya akan terlihat nyata. Selain itu, gambar yang dihasilkan dalam resolusi ini terlihat halus tanpa ada bagian yang pecah sama sekali.
1080i. Merupakan format resolusi yang mempunyai ukuran asli 1920 x 1280. Gambar yang ditampilkan dalam format ini lebih bagus dibandingkan dengan 720p karena resolusi yang semakin besar. Selain itu, dengan resolusi ini gambar terlihat secara detail, dimana setiap warna yang ditampilkan seperti aslinya.
1080p. Merupakan format resolusi yang mempunyai ukuran asli 1920 x 1080 pixels. Sebenarnya resolusi 1080i sama dengan resolusi 1080p, tetapi ada beberapa perbedaan, diantaranya adalah terlihat dari tingkat kedetailan gambar yang dihasilkan oleh 1080p lebih bagus dari pada 1080i. Selain itu, gambar yang dihasilkan lebih nyata lagi.

Sebenarnya huruf "i" pada 1080i merupakan kepanjangan dari Interlance. Interlance adalah suatu teknik untuk meningkatkan kualitas gambar tanpa harus menggunakan banyak bandwith, sedangkanuntuk huruf "p" pada 720p dan 1080p merupakan kepanjangan dari Progressive. Progressive adalah suatu teknik untuk menampilkan maupun mentransmisi gambar bergerak ke dalam setiap garis pada frame.

Selain resolusi, ada juga tentang aspek rasio. Aspek rasio adalah rasio antara lebar dan tinggi yang terlihat pada layar. Sebagai contoh, sebesar apapun ukuran layar yang digunakan oleh sebuah televisi (TV), pasti mempunyai sebuah aspek rasio, dimana apabila setiap penambahan 4 inci lebar layar maka hal itu juga akan berpengaruh dengan penambahn 3 inci tinggi layar. Itu berarti, rasio yang digunakan oleh TV itu adalah 4:3. hal ini berguna untuk menampilkan suatu pencitraan yang baik layaknya seperti mata kita ketika melihat sebuah objek. Selain aspek rasio 4:3, kita juga mengenal aspek rasio dengan perbandingan 16:9 yang biasa digunakan dalam format High Definition.

Aspek rasio 4:3 hanya memilki luas lebih 33 persen dari tinggi, sedangkan 16:9 memiliki luas lebih 78 persen dari tinggi. Sebenarnya perbandingan aspek rasio masih banyak, tetapi yang banyak digunakan biasanya hanya 4:3 dan 16:9.

Ada dua tipe dari aspek rasio, yaitu :

Original Aspect Ratio (OAR). yaitu merupakan aspek rasio yang masih original tanpa ada perbuahan dan digunakan oleh pembuat film atau produksi visual ketika membuat suatu produk visual.
Modified Aspect Ratio MAR. Yaitu merupakan aspek rasio yang telah mengalami perubahan untuk menyesuaikan dengan jenis layar tertentu.

Yang terakhir untuk kita kenal yaitu frame rate. Frame rate atau tingkatan frame merupakan berapa banyak rate yang berjalan di dalam suatu frame, artinya sebuah sebuah video akan berjalan lebih mulus jika di dalam suate frame banyak rate-nya. Seperti halnya yang terjadi pada resolution, frame rate juga dipengaruhi oleh interlance dan progressive yang terjadi ketika suatu virtual dijalankan.

Ada beberapa frame rate yang digunakan secara umum, yaitu :

60i. Merupakan frame rate yang berarti memilki 60 bagian interlance, dimana dapat disamakan jumlah frame yang digunakan berjumlah 29.97 frame.
60p. Merupakan frame rate yang berarti memilki 60 bagian progressive, dimana jumlah frame sama dengan 60i yaitu 29.97 frame.
50i. Merupakan frame rate yang berarti memiliki 50 bagian interlance, dimana dapat disamakan jumlah frame yang digunakan berjumlah 25 frame.
50p. Merupakan frame rate yang berarti memiliki 50 bagian progressive, dimana jumlah frame sama dengan 50i yaitu 25 frame.
30p. Merupakan frame rate yang berarti memiliki 30 bagian progressive, dimaana dapat disamakanjumlah frame yang digunakan berjumlah 25 frame.

Frame rate yang digunakan oleh High Definition adalah frame rate 50p dan 60 p, tetapi kadang-kadang ada yang menggunakan 30p. Sedangkan untuk 50i dan 60i biasanya digunakan oleh siaran broadcast dan DVD. Saat ini, hampir semua peralatan multimedia menyediakan fasilitas HD dengan kelebihan-kelebihan yang variatif. Jadi, dengan berbekal pengetahuan di atas, kita bisa mengetahui tipe-tipe barang HD yang cocok dengan selera kita.

sumber : http://www.facebook.com/refy.rafael